Ontrackers‎ > ‎

Cegah Flu Burung, Amankan Produk Pangan Unggas

posted 15 Nov 2011, 04:32 by Horea Salajan   [ updated 16 Nov 2011, 00:08 by Evelina Simanjutak ]

  [JAKARTA] Kesehatan manusia di masa mendatang harus diperhatikan mulai dari keamanan produk pangan khususnya yang berasal dari unggas. Restrukturisasi industri peternakan menjadi keharusan agar penyebaran flu burung atau avian influenza dari unggas tidak menular ke manusia.

Untuk itu, sejak tahun 2005 Indonesia dan Belanda melakukan kerja sama pengendalian avian influenza dan telah berakhir awal November 2011. Kerja sama tersebut dilakukan Indonesia-Dutch Partnership on Highly Pathogenic Avian Influenza (IDP-HPAI). Dalam hal ini, IDP-HPAI melaksanakan capacity building, riset ilmiah dan uji lapangan untuk mencegah penyebaran avian influenza di Indonesia serta mengendalikan penularan penyakit berbahaya ini. Kerjasama bilateral yang telah berlangsung 6 tahun itu dilakukan oleh Kementrian Pertanian Indonesia dan Kementerian Pertanian, Luar Negeri dan Kesehatan Masyarakat Belanda.

Head of Operational Office IDP-HPAI Ivo Claassen di Jakarta mengatakan dari awal fokus utama aktivitas kerja sama ini adalah mengembangkan strategi pengendalian wabah HPAI pada unggas. Pengembangan program pengendalian ini pun didukung oleh berbagai bidang dan studi laboratorium yang melahirkan pandangan tentang efektifnya vaksin yang diproduksi secara lokal, namun juga struktur rantai pasar dan hal-hal seputar virus yang menyebabkan aviani.

“Pandangan ini telah sangat membantu dalam pengembangan kebijaksanaan yang dapat membantu program pengendalian. Sebagai contoh, kami melaksanakan pengawasan (surveillance) di beberapa fasilitas rumah penampungan unggas di DKI Jakarta dan hasil riset kami menunjukkkan bahwa 80 persen dari rumah-rumah penampungan unggas ini terinfeksi virus avian influenza,”  katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dalam keterangan tertulisnya, IDP-HPAI menyediakan hasil riset yang berbasiskan Indonesia agar bisa mendapatkan pedoman-pedoman penting yang telah membantu pemerintah Indonesia dalam mendukung capacity building petugas kesehatan hewan. Dalam hal ini IDP-HPAI telah berkontribusi dalam mengendalikan risiko avian influenza pada manusia di Indonesia.

Ivo menambahkan, restrukturisasi industri perunggasan di Indonesia harus dilakukan agar virus avian influenza tidak mudah menyebar. “Terdapat banyak kesempatan kontak antar unggas terinfeksi di pedagang (trader), transportasi dan rantai pemasaran. Ini bukan hanya masalah bagi industri perunggasan saja, namun juga memiliki risiko bagi kesehatan manusia,” ujarnya.

Sementara itu, flu burung menurutnya bukan hanya masalah keamanan bahan makanan, namun juga terhubung dengan ketahanan pangan. Dengan pertumbuhan populasi 4 juta bayi per tahun, Gross Domestic Product yang meroket dan standar hidup orang Indonesia yang lebih tinggi, dapat diperkirakan permintaan daging unggas akan meningkat.

Pola ini menurutnya telah tampak sebelumnya pada negara-negara berkembang di Asia Tenggara. “Bagaimana cara menyediakan makanan yang cukup bagi populasi Indonesia adalah tantangan di masa depan. Restrukturisasi industri perunggasan agar lebih efisien dan mengurangi resiko penyebaran avian influenza adalah salah satu sisi dari mata uang emas, dan sisi lainnya adalah bagaimana merangsang masyarakat Indonesia untuk mau lebih terlibat dalam keamanan bahan pangan dan ketahanan pangan,” ungkapnya. [R-15]


Sumber: Suara Pembaruan


Comments