Ontrackers‎ > ‎

Sisi Lain Penahanan 8 Tersangka Korupsi Dana Flu Burung

posted 2 Dec 2011, 03:09 by Evelina Simanjutak

Kota Payakumbuh, Padang Ekspres • Berita Kriminal • Kamis, 01/12/2011 13:02 WIB •

Penahanan yang dilakukan jaksa terhadap 8 tersangka kasus dugaan korupsi dana penanggulangan flu burung senilai Rp118,4 juta, membuat gempar kalangan birokrasi dan DPRD. Bahkan, Sekretaris Kota Irwandi Datuak Batujuah dan Asisten II Sekko Richard Moesa, sempat menemui Kajari Tri Karyono.


Irwandi dan Richard menemui Tri Karyono, sekitar setengah jam sebelum delapan tersangka, yakni Wilson Fitriadi, Hari Yeni, Antoni, Ekarina Yulia, Surya Ade Saputra, Gusman Efendi, Rahmidarwati, dan Susi Suheni, diantar jaksa ke lembaga pemasyarakatan, dengan menggunakan mobil tahanan BA 9988 MC.


Tidak jelas, apa saja yang disampaikan Irwandi dan Richard kepada Tri. Pastinya, setelah bertemu dengan jaksa asal Klaten, Jawa Tengah itu, Irwandi dan Richard, terlihat sama-sama menemui 8 tersangka yang diperiksa di ruangan Pidana Khusus, Kejaksaan Negeri Payakumbuh.


Begitu bertemu dengan 8 tersangka, Irwandi dan Richard terlihat menyalami mereka satu persatu. Meski tidak ada komentar yang disampaikan kepada wartawan ataupun kepada 8 tersangka, namun dari raut wajah Irwandi dan Richard, tampak jelas kalau mereka prihatin dengan yang menimpa para tersangka, terutama 7 pejabat dan pegawai Dinas Pertanian.


Irwandi dan Richard bukanlah satu-satunya pejabat yang datang melihat 8 tersangka. Dua anggota DPRD Limapuluh Kota, Zulfahmi dari Partai Demokrat dan Noviyuliasni Datuak Paduko Rajo dari Partai Persatuan Pembangunan terlihat juga sempat datang untuk menemui Wilson Fitriadi, rekan mereka yang ikut ditahan.


Selain anggota DPRD, puluhan pegawai Dinas Pertanian Payakumbuh juga silih berganti datang ke Kejari Payakumbuh. Para pegawai datang memberikan dukungan moral untuk teman-teman mereka yang tersandung kasus hukum. Selain memberi dukungan, sejumlah pegawai juga terlihat menangis.


Mereka tidak menyangka, 7 teman-teman mereka akan langsung ditahan jaksa. Sebab mereka dengar, Rabu itu, jaksa baru menerima berkas perkara dugaan korupsi dana penanggulangan flu burung dari polisi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, begitu menerima berkas 8 tersangka, jaksa langsung menyodorkan sejumlah surat berwarna merah jambu.


Surat yang bukan berarti lambang cinta itu, berisikan perintah penahanan terhadap 8 tersangka. Begitu membacanya, para tersangka nampak pucat. Puluhan pegawai dan keluarga yang mendampingi hanya bisa tertunduk lesu. Kajari Payakumbuh Tri Karyono berharap, semua pihak menghormati proses hukum.


Hasil Audit BPKP
Kasus dugaan korupsi dana penanggulangan flu burung yang melibatkan 8 tersangka, menurut Kajari Tri Karyono dan Kapolres S Erlangga, berawal ketika Payakumbuh dinyatakan terjangkit flu burung, Januari 2007. Untuk penanggulangan, Kadistannak yang saat itu dijabat Ghazali Madjid, memanggil Kasubdin Keswan Haryeni.


Saat itu, Ghazali menanyakan ketersediaan vaksin avian invluenza dan disinfektan untuk penanggulangan flu burung. Pertanyaan Ghazali dijawab Haryeni dengan mengatakan, vaksin avian influenza tidak ada, sedangkan disinfektan juga tidak mencukupi.


Ghazali meminta Haryeni menaikan telaah staf, guna mencairkan dana tak terduga yang dianggarkan Pemko bersama DPRD Payakumbuh. Haryeni menaikkan telah staf 27 Februari 2007.  Tiga bulan kemudian atau 22 Mei 2007, berdasarkan RAB yang diajukan Haryeni, turun anggaran sebesar Rp100,3 juta.


Menurut Haryeni kepada polisi, anggaran itu digunakan untuk pengadaan bahan atau peralatan sebesar Rp49,8 juta, depopulasi selektifitas atau pemeriksaan sebesar Rp7 juta dan biaya operasional  sekitar Rp43,5 juta. Haryeni juga mengklaim, vaksinisasi dilakukan 12 Februari sampai 22 Mei 2007 oleh keenam vaksinator.


Lantas, dimana letak penyimpangan kegiatan ini? Menurut polisi, sebelum Haryeni mengajukan telaah staf, Distannak Payakumbuh sudah memperoleh bantuan vaksin dari Disnak Sumbar. Vaksin berlabel tidak dijualbelikan itulah yang digunakan untuk kegiatan vaksinasi 12 Februari sampai 22 Mei 2007.

Polisi menduga, pernyataan Haryeni kepada Ghazali, soal vaksin avian influenza sedang habis, tidak sesuai realita. Sebab saat itu, Disnak Sumbar baru mendistribusikan vaksin buat Payakumbuh, sebanyak 131.500 dosis. Dalam arti lain, telah staaf yang diajukan, hanyalah akal-akalan untuk mencairkan dana tak terduga sebesar Rp100,3 juta. (frv/mg13)

 

[ Red/Redaksi_ILS ]

sumber: Padang Ekspress

Comments